Senin, 14 November 2016

Masa Transisi dalam Berlogat



Pic credits to makassarterkini.com

Dear Makassar..
Kota yang pertama kali saya kenal (benar-benar kenal) saat menjadi mahasiswi tahun 2002. Sebelumnya sih sudah beberapa kali mengunjungimu tapi hanya dalam rangka liburan saja, hanya sebatas itu. Saya akan menceritakan masa-masa awal saya berkenalan denganmu.

Saya menghabiskan 17 tahun menetap dan tumbuh di kota paling timur Indonesia yaitu Merauke, Papua. Lebih lama dibandingkan waktuku bersamamu sampai detik ini. Dulu, saya mengenalmu dengan nama Ujung Pandang sebelum akhirnya resmi berubah menjadi Makassar. Saat itu saya hanya mengetahui kamu adalah Ibu kota dari Provinsi Sulawesi Selatan. Tiap ada yang bertanya asal saya dari mana, saya pasti menjawab Ujung Pandang walaupun aslinya sih dari Enrekang, hehe.

Saat kelas 2 SMA, saya dan keluarga akhirnya pindah ke Sulawesi dan melanjutkan sekolah di Enrekang, salah satu Kabupaten yang menghabiskan waktu sekitar 4-5 jam perjalanan dari tempatmu. Setelah lulus, saya melanjutkan kuliah di Makassar. Rumah yang Bapak beli sejak tahun 1992 akhirnya bisa kami tempati.

Tahun-tahun pertama menjadi mahasiswi, bukan hanya mata kuliah yang saya pelajari. Saya juga menimba ilmu soal dialek, logat, dan istilah dalam bahasamu.  Selain nama-nama jalan yang sampai sekarang masih belum bisa saya hapal, dialek dan penggunaan bahasamu sehari-hari merupakan tantangan buatku. Tiap mendengar teman berbincang, ada saja celah untuk saya bertanya 'apa artinya itu? Dan langsung akan dijawab teman dengan 'ededeh gampang sekali ko dijual nah'. Jangankan arti dari istilah-istilah, penempatan imbuhan seperti 'mi', 'pi', 'ji', 'nah' saja kadang saya belepotan. Sungguh butuh effort yang luar biasa untuk bisa memahami dan menempatkannya dalam konteks kalimat yang benar. Sedangkan selama di enrekang setahun lebih, saya tidak terlalu mengalami kendala yang berarti soal bahasa dan dialek. Walaupun banyak juga yang tidak saya mengerti, setidaknya saya cukup familiar karena Bapak dan Ibu sering berbincang menggunakan bahasa Enrekang saat kami masih di Papua. Lagipula saat di Enrekang saya tidak terlalu memusingkan dialek yang kadang membuatku bingung, hehe.

Masa transisi dari dialek khas WIT ke WITA pun menjadi masa-masa yang cukup sulit buatku. Di Papua sendiri, dialek semi formal yang biasa digunakan saat berkomunikasi dengan orang baru tidak jauh beda dengan dialek di daerah Jawa. Karena itu juga saya pernah diejek senior 'Orang Enrekang jko pale..jangan mko logat deh' dalam hati saya hanya merasa dongkol. Lha, kalau saya ngomongnya pake dialek Papua, situ ngerti gak? Sejak SD, teman yang ada di kelas saya bisa berasal dari semua provinsi yang ada di Indonesia. Bahkan anak Papua asli pun banyak yang fasih berlogat Ibu Kota. Jadi ya gimana dong. Sempat saya berpikir (hanya sesaat saja) bahwa orang-orang Makassar sedikit sombong dan suka meremehkan.

Meski sudah bertahun-tahun menjadikanmu tempatku menetap, ternyata pembendarahaan kata ku selama di sini masih kurang. Pernah suatu kali terjadi percakapan antara saya dan suamiku.

Suami:  Bun, 'Basah Mami' itu artinya apa? Panda sering lihat stiker tulisan gitu di pete-pete.. (Saat itu sepertinya memang lagi hits istilah ini)

Saya: (dengan sok tahunya menjawab)  Itu lawannya 'Basah Papi'..mungkin ada juga pete-pete yang pasang stiker Basah Papi..semacam persaingan begitue antar supir..

Suami: Ooh..

Mendengar suami bilang 'Ohh..' dengan nada ragu dan tidak puas dengan jawaban saya, sayapun menjadi ragu sendiri. Akhirnya saya bertanya kepada teman-teman via chat group perihal pertanyaan suami saya. Sontak semua pada tertawa mendengar jawaban saya. Dan ternyata istilah tersebut memiliki makna yang kurang bagus (katanya sih yaa, hehe.)

Sampai saat ini saya belum meralat jawaban untuk pertanyaan suami. Sudahlah, lupakan saja. Toh istilah itu sudah tidak ngehits lagi kan. Lagipula adakah suami istri yang lebih absurd percakapannya dari kami? 🙈

Dear Makassar, walaupun kamu bukan saksi yang menyaksikanku tumbuh dari bayi hingga remaja, kemanapun saya pergi saya selalu merindukanmu. Dan dialekmu pun sudah mendarah daging. Ketika semua keluarga suami di Bandung saling bertatapan saat saya mengucapkan kata 'Tabe' di depan mereka, di situ saya sadar seharusnya mengucapkan kata 'Punten' atau 'permisi' saja. Apakah moment itu yang dimaksud dengan istilah'Ta'kes'? Entahlah..

Tulisan ini saya ikut sertakan dalam program BAKU TANTANG BLOG dalam rangka menyambut 10 Tahun komunitas blogger makassar Anging Mammiri