Sabtu, 14 Mei 2016

Anak-anakku yang tak pernah lahir (part I)




Akhirnya sayapun memberanikan diri untuk membuat tulisan tentang kehilangan yang saya alami dua kali dalam kurun waktu 6 bulan. Ya..saya kehilangan dua calon anakku pada bulan September 2015 dan Maret 2016.


-Kehilangan pertama- Ini merupakan kehamilan kedua ku saat itu. Ketika usia kehamilan menginjak 7 minggu, saya memang sedang banyak mengikuti kegiatan di luar rumah. Hampir tiap hari naik turun tangga, naik bentor (becak motor), dan kurang tidur. Saya saat itu tidak terlalu membatasi kegiatan dan gerak karena terlalu 'PD' bahwa kehamilanku akan baik-baik saja. Saya hanya merujuk pada kehamilan pertama saya yang bisa dibilang tidak pernah mengalami kendala apapun. Waktu hamil pertama usia 4-5 minggu, hampir tiap hari saya keluar rumah mengurus sesuatu di Bank yang bangunannya juga menggunakan tangga. Usia 5 minggu melakukan perjalanan darat sekitar 3 jam dari Bitung ke Menado dilanjutkan dengan perjalanan udara Manado ke Makassar. Usia 6 minggu pernah jatuh terduduk, sempat pindah kosan 3 kali (saat rumah direnovasi dan akhirnya dijadikan ruko tingkat dua) Alahamdulillah tidak pernah ada flek setitikpun sampai anak pertamaku Auf lahir dengan selamat. Saya pikir kehamilan keduaku akan lancar jaya seperti halnya yang pertama. Tapi ternyata saya salah besar.


Tanggal 9 September 2015, saat di mana keluar flek untuk pertama kali pada kehamilan keduaku. Setelah maghrib, saya langsung ke RSIA dekat rumah untuk cek. Tentu saja ke RS nya menggunakan bentor langganan. Ya.. seperti kehamilan sebelumnya, saya jarang ditemani dan diantar suami tiap kontrol dikarenakan pekerjaan suami yang membuat kami harus terpisah dalam jarak dan waktu yang cukup lama. Saat cek di RSB, kata dokter semua baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikuatirkan. Pernyataan dokter membuat saya cukup lega. Akhirnya saya pulang ke rumah dengan dibekali obat penguat oleh dokter.

Tanggal 10 september 2015 sekitar pukul 9 pagi. Perutku rasanya mulas dan melilit. Saat itu sudah banyak darah yang keluar hingga menghabiskan dua pembalut. Sayapun panik. Di rumah hanya ada saya, bapak yang sedang sakit, dan Auf. Saya bertekat harus ke RS saat itu juga. Orang pertama yang saya hubungi adalah kak Ama. Kak Ama bukanlah teman yang yang saya kenal bertahun-tahun. Tapi beliau langsung bersedia mengantar saya ke UDG khusus Obgyn di RS Wahidin Makassar. Saat tiba di UGD, perawat langsung menyatakan bahwa tindakan yang akan dilakukan tidak bisa menggunakan BPJS, harus umum. Kalau mau menggunakan BPJS, harus ke RS Pendidikan dulu. Dengan nada kesal, kak Ama mengatakan tidak mengapa pakai umum saja yang penting teman saya ditindak dulu. Sementara saya diperiksa oleh dokter, kak Ama yang belum puas dengan pelayanan UGD sibuk menelepon sana sini untuk mempertanyakan mengapa saya tidak bisa menggunakan BPJS sementara yang saya alami ini bisa dibilang darurat. Tidak hanya itu, kak Ama memperlakukan saya melebihi saudara (duh, jadi mewek..) Kak Ama membantu membuka celana saya saat akan diperiksa dalam oleh dokter. Malu dan risih? Iya dong, tapi kak Ama malah marah kalau saya mangatakan itu. Kak Ama pula yang membelikan air putih, dan mengantarkan sampel darah saya ke Lab untuk diperiksa. Beberapa saat kemudian, datang juga teman saya yang lain. Kak Pita dan Lily yang menemani saya selama di UGD. Hasil analisa dokter berdasarkan USG, tepi-tepi kantung rahim sudah sedikit rusak. Di situ saya mulai pasrah sih. Saya disuruh bedrest total selama satu minggu, sambil mengkonsumsi obat penguat yang diberikan oleh dokter sehari sebelumnya. Dan akhirnya atas perjuangan Kak Ama, saya pun bisa menggunakan BPJS untuk membayar semua tagihan selama di UGD (sebenarnya kak Ama menyampaikan pada saya cerita dibalik pernyataan awal pihak UGD tentang tidak berlakunya BPJS saya hingga akhirnya bisa berlaku, tapi saya tidak terlalu mengerti dan faham jadi kita skip saja ya, daripada salah tulis).

11 September 2015. Pagi sekitar jam 10 pagi. Darah yang keluar makin banyak dan terdapat banyak gumpalan seperti hati ayam. Rasanya? Maknyusss. Seolah-olah badan bagian pinggang ke bawah akan lepas. Sehari sebelumnya sahabat saya NENY bela-belain dari Takalar ke Makassar untuk menemani saya selama bedrest. Jadi saat pendarahan, Neny lah yang mengantar saya langsung ke UGD RS Grestelina. Saya ingat sekali, saat itu Neny sedang memasak bubur kacang hijau yang katanya bagus untuk kandungan saya :( kemudian Neny langsung mematikan kompor dan buru-buru menyiapkan segala sesuatunya untuk ke RS. Kakak yang tinggal bersebelahan dengan ruko saya sedang tidak di rumah. Untung ada iparku di rumahnya jadi Auf saya titipkan saja sama beliau. Sambil menahan sakit, saya merasa semua isi rahimku keluar mengalir deras. Neny juga sibuk mengurusi admin di UGD. Saya sangat merasa terberkahi dengan memiliki teman-teman yang memperlakukan saya seperti, bahkan melebihi saudara. Dalam kesempatan ini saya sekali lagi ingin mengucapkan Terima Kasih banyak untuk kak Ama dan Neny.

Sebelum ke UGD, saya sudah mencoba menghubungi suami. Tapi susah sekali nyambung ke ponselnya. Saat saya diperiksa oleh dokter, barulah suami saya menelepon ke ponsel saya, Neny yang menerimanya sekalian memberi kabar bahwa saya mengalami pendarahan dan sedang berada di ruang poli obgyn. Di ruang poli ini lah terjadi drama (agak lebay, tapi memang seperti itu kondisinya 😅) Jadi, sejak masuk UGD saya memang sudah sedih-sedihan menangis ga keruan karena rasa sakit yang luar biasa. Saat itu saya sudah ikhlas, toh saya juga belum merasakan ikatan yang kuat sama si calon bayi. Saya juga mikirnya Auf mungkin belum siap punya adik lagi. Tapiiiiii.. setelah melihat layar USG yang menampilkan kondisi rahim saya yang seperti ruang hampa kosong melompong, dada saya rasanya sesak, air mata makin deras, pengen teriak tapi tidak bisa. Bagaimana tidak, sehari sebelumnya di RS wahidin, saya masih bisa melihat layar USG di mana janin saya masih terbungkus kantung walaupun sudah sedikit rapuh. Drama makin menjadi saat dokter mengatakan "tolong minta suaminya untuk tanda tangan persetujuan operasi (kuretase) jam 2 siang" Saya dengan lemas dan suara terbata-bata menjawab "ga ada suamiku, dok..temanku ji yang antar" (kalau saya ingat ini kok malah lucu :D padahal asli suasana saat itu mengharu biru, percayalah.. hehehe)

Karena tidak memungkinkan suamiku langsung datang ke Makassar, akhirnya saya menghubungi adik dan kakak saya agar segera ke RS untuk menandatangani persetujuan operasi. Si kakak ternyata tidak bisa cepat sampai di RS karena satu dan lain hal. Akhirnya adik bungsu saya yang menandatangani form persetujuan tersebut.

Akhirnya tibalah waktu operasi. Sebelumnya, saya rada aneh dan janggal tindakan kuret ini disebut operasi. Yang ada di pikiran saya saat itu, kuret hanya dilakukan di ruang dokter dengan bius lokal saja. Ternyata, prosudernya tidak seperti itu. Saya harus melepaskan semua pakaian saya, mengenakan pakaian operasi dan hair cover. Segala kabel-kabel yang tersambung dengan mesin menempel di tubuh saya. Dengan posisi baring, saya didorong melewati lorong-lorong RS menuju kamar operasi. Saat itu saya malah sibuk bicara dalam hati: 'ih, kaya di film-film saja' 😁 saya benar-benar tidak menyangka akan mengalami situasi seperti itu. Sebelum operasi pun saya di-interview beberapa perawat dan dokter obgyn. Agak rempong dan lama sih prosesnya, tapi saya sangat menghargai itu karena itu artinya mereka sangat concern dengan resiko yang bisa saja terjadi pada saat atau pasca operasi. Setelah meja operasi disiapkan, mataku disilaukan dengan cahaya dari 3 buah lampu operasi yang mirip pesawat UFO. Saking sibuknya saya dengan pengalaman baru ini, saya lupa untuk berdzikir sampai saat saya dikenalkan dengan dokter anastesi yang paruh baya. Saya lupa namanya, tapi beliau mengelus kepala saya sambil berkata "kita berdoa sama-sama ya semoga operasinya lancar..kalau mau tidur, tidur saja". Saya hanya mengucapakan Bismillah dalam hati, tapi mataku tertuju pada perawat-perawat yang mengelilingi saya dengan hair cover hijau mereka. Entah kenapa hal yang saya ingat terakhir adalah hair cover 'GOJEK' *haddeh..Perlahan saya rasanya seperti ngantuk berat, kemudian gelap.

Tiba-tiba saya terbangun (tapi masih rada ngantuk) dan mendapati saya sedang didorong masih dalam posiai terbaring menuju ke suatu ruangan. Perawat yang mendorong pada ketawa. Salah satunya nyeletuk 'Chieee..yang pesen black burger lewat GOJEK' saya pun heran. Ternyata kata perawat, sesaat setelah operasi saya sempat mengigau order black burger via Gojek. Masya Allah.. Bisa-bisanya saya mengigau itu 😂. Akhirnya saya cuma bisa bilang 'masa siih..?'

Awalnya sih lucu mengingat kejadian itu. Tapi horror juga kalau saja saya tidak bangun-bangun setelah operasi selesai. Bukannya mengingat Allah, hal terakhir yang saya ingat malah aplikasi ojek online *sigh. Tapi Alahamdulillah operasi berjalan lancar hingga saat ini saya bisa menuliskan pengalaman kuretase pertama saya.

Malam pertama nginap di RS tanpa ditemani siapapun. Saya mah gitu orangnya, selama saya masih bisa sendiri kenapa harus merepotkan orang lain. Dan lagi, setelah operasi saya juga tidak merasakan sakit yang berarti. Alhamdulillah juga ada teman dan keluarga yang menjenguk. Hari berikutnya barulah saya keluar RS dijemput oleh suami dan Auf. Dua lelaki kesayanganku.

Sekian ceritaku tentang kuretase pertama. Tentang anak keduaku yang tak pernah lahir. Yang saat itu tidak pernah terbersit sekalipun dalam benakku bahwa saya akan mengalami hal yang sama lagi untuk kedua kalinya, bahkan lebih deramah 😒

posted from Bloggeroid