Sabtu, 22 Desember 2012

Memandikan Ibu, Untuk Kali Pertama dan Terakhir


Untill wee meet again, IBU..
Merauke, 2 mei 2000 ..''ee..bangun ko semua sholat subuh! Siap- siap mau upacara di lapangan!'' kalimat terakhir yg masih terdengar secara utuh dari mulut ibuku.. Hari itu adalah hari terakhir ibu masih 'memanjakan' kami dengan menyetrikakan seragam sekolah, menyiapkan dasi dan topi yg akan kami pakai untuk mengikuti upacara hari pendidikan di lapangan Mandala, Merauke. Saya masih kelas 1 SMA saat itu. Dan besoknya, tak satupun kalimat utuh yang bisa diucapkan oleh ibuku. Tak ada sarapan, teh hangat, hanya ada empat anak manja dgn perasaan aneh, ga percaya, dan bingung. Tiba-tiba saja Ibu kesulitan dalam berbicara dan mengingat sesuatu. Tingkahnya pun sedikit aneh. Bapak yg terlihat santai dan biasa-biasa saja saat itu, justru menjadi satu-satunya orang yang paling habis-habisan menguras tenaga, biaya, perasaan, sampai 6 tahun ke depan. Saya masih ingat, sibuknya bapak saat mencari pengobatan, mengurus pensiun dini ibu, bahkan saat mengambil keputusan untuk mengirim ibu ke Makasar untuk berobat. Bapak bingung sekali saat itu. Akhirnya Ibu berangkat ditemani kakak ke duaku yang saat itu memang akan kuliah di makasar. Bapak tidak bisa ikut, karena kerja dan tentunya masih ada tiga anak cewek kehilangan arah yang masih sekolah. 


Satu tahun lebih tanpa kehadiran ibu, selama itu pula kami mengerjakan apa yg ibu biasa kerjakan. Semua benar-benar terasa aneh . Sampai suatu saat kami semua harus pindah sekolah, meninggalkan kota Merauke, tempat kami tumbuh besar, demi bertemu ibu yang katanya tidak bisa jauh lebih lama lagi dari kami. Kami juga rindu, dan berharap ibu sudah sembuh saat bertemu nanti.

Saat kepindahan kami, saat-saat paling menyedihkan. Kami membawa barang yang perlu saja. Rasanya berat meninggalkan rumah yang sudah kami tinggali selama 17 tahun. Sejak rumah kami masih sangat kecil dan terbuat dari papan, hingga menjadi 'istana' yang cukup besar bagi kami.

Tiket pesawat Merauke-Makasar saat itu masih mahal-mahalnya. Padahal kami ada empat orang yg akan berangkat. Akhirnya bapak memutusuan untuk naik pesawat 'Hercules' . Bapak bilang pesawat itu tidak sama seperti pesawat lain. Kami bingung. Dan kebingungan kami terjawab saat akan memasuki pintu pesawat. Penumpang berebutan tempat duduk. Ternyata pesawat itu adalah pesawat pengangkut barang. Saya tidak dapat tempat,jadi saya berdiri saja dan sempit-sempitan dengan yg lain yang senasib denganku. Kedua adikku mendapat tempat dan hanya ketawa mengejek melihatku. Wanita dan anak2 ditempatkan di bagian depan, sedangkan laki-laki di belakang. Karena posisi saya berdiri, sy berusaha mencari-cari di mana tempat bapak. Dari jauh bapak melambaikan tangannya. Saya senang sekaligus sedih. Bapak juga berdiri, terhimpit orang lain dan tentunya banyak sekali tumpukan barang di belakang. Sedihnya melihat pemandangan itu. Kami transit di Sorong dan menginap semalam. Kami menginap di mess bandara, tidak ada tikar, apalagi bantal. Hanya beralaskan koran bekas. Kami bercampur dgn penumpang lain.. Astagfirullah..moment yg sangat menyedihkan. Kami seperti para tuna wisma saja. Bapak sangat menjaga kami, bahkan beliau tidak tidur dan masih saja mau menyenangkan kami dgn membelikan makanan ringan. Saya senang, kami tidak ada yang mengeluh. Terutama adik bungsuku yang paling manja sejagad raya. Dia justru lebih sering diam. Saya tersadar, kehidupan memang tak selamanya tentang bahagia. Tidak sedikitpun terbersit di pikiranku bahwa kami akan berada di situasi seperti itu. Dan semuanya memang akan berubah mulai titik itu.

Subuh sekitar jam 4, pesawat sudah siap membawa kami ke Makasar. Masih dengan bang 'Hercules', tapi penumpangnya sudah berkurang. Alhamdulillah kami semua mendapatkan tempat duduk.

Sampai di Makasar, senang radanya bertemu ibu dan kedua kakakku. Tapi ternyata ibu masih belum sembuh. Beliau mengingat kami, tapi tidak bisa menyebut nama kami dengan benar.

Ibuku terserang stroke syaraf. Secara fisik ibu terlihat sehat. Tapi emosinya kadang tak terkendali. Apa yang akan dia ucapkan berbanding terbalik dengan apa yang keluar dari mulutnya. Ibu pernah memanggilku dengan nama orang lain, 'Nur Alam'. Ibu jg pernah memanggilku 'motor' dan 'ayam'. Terdengar lucu sih, kalau kami tertawa, ibu juga ikut tertawa. Paling susah kalau Ibu pengen dibeliin sesuatu, tapi kami tidak ada yg tau apa yg ibu maksud. Intinya, ibu seperti anak balita yang belum lancar bicara. Manjanya bahkan melewati manjanya adik bungsuku. Tapi ibu masih bisa mandi sendiri, bahkan sholat tepat waktu. Kalau ibu menyuruh kami sholat, ibu hanya cukup menunjukkan angka dengan jarinya. Jadi kalau ibu menunjukan angka '3', artinya ibu menyuruh kami sholat maghrib. Pernah suatu kali ibu menunjukkan angka '2' lalu '4' sesaat setelah sy sholat duhur. Saya bilang ''empat ji buu'' tp ibu ngotot dgn angka '2'. Ternyata maksudnya sy harus sholat sunnah dulu 2 rakaat sebelum sholat fardu. Tapi karena sy malas berdebat, syaya bilang saja sudah sholat sunnah. Ibu tau say a bohong dan berkata ''tidak..tidak..tidak. tidak.. Mana?,tidak dengar!'' sy yakin maksudnya adalah ''kapan? Sy tidak lihat'' hehe, ibu masih ingat saja dulu waktu kecil sy suka ngaku sudah sholat padahal ibu selalu mengawasi gerak-gerikku.

Ibu masih memanjakan adik bungsuku, bahkan saat ibu sudah jatuh sakit. Padahal kami berpikir bahwa ibu akan kehilangan semua kebiasaan dan kemampuannya mengingat sesuatu. Kecuali sholat, sejak sakit ibu memang sudah tidak bisa masak, membaca, menulis, dan semua aktivitas seperti saat ibu masih sehat. Belakangan baru kami tahu, itupun adikku sendiri yg bercerita. bahwa setiap Ibu menerima gaji pensiunnya, ibu selalu memanggil adik bungsuku diam-diam ,dan menyematkan uang 100ribu di tangan adikku. Ibuku hanya meletakkan jari telunjuk di mulutnya dan sudah pasti artinya adalah ''jangan sampai ketahuan kakak2mu kalau ibu memberimu uang''. Yah,tiap bulan saya yg bertugas mengambil gaji pensiunnya sebagai guru di bank, dan wajib hukumnya semua uang harus saya setor ke ibu. Tanpa kurang selembar pun.

Berbagai pengobatan sudah dijalaninya. Mulai secara medis, sampai alternatif. Alhamdulillah dua tahun sebelum meninggal,ibu sudah bisa ingat tanda tangan nya, sudah bisa menulis nama anak-anaknya walaupun masih lebih bagus tulisan anak SD.

Suatu hari..saat wudhu,ibu terjatuh. Tapi masih bisa bangkit dan sholat. Waktu itu waktu duhur. Tapi seingatku ibu hanya mengerjakan 2 rakaat saja kemudian terduduk lama tidak berdiri lagi. Setelah dirawat 3 hari di RSI Faisal, ibu kami pindahkan ke RS Maspul Enrekang. Perjalanan Makasar- Enrekang naik Ambulance, ibu sudah koma. Ibu dirawat di RS Maspul Enrekang selama empat hari. Tiap hari saya mengajak ibu berbicara. Saya meminta maaf sedalam-dalamnya, menciumi ibu tanpa henti. Air mata ku deras mengalir mengiringi ingatanku yang sesaat kembali ke beberapa waktu sebelumnya. Saat di mana saya sering menentangnya, tidak pernah mau mendengar untuk membersihkan kamar ku yg selalu berantakan. Ucapan maaf terus saya bisikkan di telinga ibu, berharap ibu mendengarnya dan betul-betul memaafkan saya.

Hari ke tiga, mata ibu terbuka dan mengeluarkan air mata saat sy masih mengucap maaf..mata ibu jelas tidak mengarah ke wajahku. Ibu seakan-akan sedang melihat sosok yang akan menjemputnya. Perasaanku sudah tidak tenang. Ucapan Maaf makin gencar saya bisikkan di telinga ibu.

Subuh keesokan harinya saat saya dan adik ke dua ku sedang berwudhu di musholah RS, terdengar tangisan pecah. Dan kalimat 'Laa Ilaaha Illallah..' yang diteriakakan tante-tanteku membuat kami sadar ibu telah pergi. Saya dan adik ku saling menatap, kemudian melangkah ke ruang ICU. Langkahku tak tergesa-gesa. Air mataku bahkan belum tumpah, sampai akhirnya bertemu bapak di pintu masuk ICU. Bapak memeluk kami sambil menangis dan berkata ''sabar nak..''

Saya melihat adik bungsuku membantu perawat melepas peralatan medis yg terpasang di tubuh ibuku. Dia sedih, tapi tidak menangis tersedu-sedu. Tampaknya kami semua memang sudah siap akan datangnya moment itu. Bahkan saat kami memandikan mayat ibu kami, air mata kami keluar tanpa suara..kami sibuk memanjatkan doa dalam hati. Saya kebagian membersihkan wajah ibuku. Kepala, telinga, hidung, dan di dalam mulut. Walaupun tertutup kain, saya berusaha agar wajah ibu bisa benar2 bersih. Aneh rasanya, dulu ibu yang memandikan kami sambil mengajak kami tertawa penuh bahagia. Akhirnya kami yang harus memandikan Ibu dalam kondisi tak bernyawa. Tapi kami senang, kami bisa memandikan ibu kami sendiri. Untuk yang pertama sekaligus terakhir kalinya.

Kami mencium kening ibu sesaat sebelum wajahnya tertutupi kain kafan. Sesak sekali rasanya. Kami akan berpisah untuk selamanya. Tapi ikhlas bisa menghilangkan rasa itu.

Ibuku meninggalkan kami di minggu terakhir bukan November 2006. Saya sudah lulus kuliah saat itu. Enam tahun penuh emosi jiwa, tapi sangat berharga. Gaji pertamaku kerja tidak sempat saya gunakan untuk membeli sesuatu untuk Ibu. Tak satupun dari kami, kelima anaknya yang sempat meminta doa restu untuk menikah.

Banyak hal yang saya sesali, yang tidak sempat saya lakukan bersama ibu saat beliau masih hidup. Menyesal tidak langsung merapikan kamar saat disuruh, menyesal tidak pernah mengucap maaf tiap saya membuatnya kesal, menyesal tidak meminta resep 'sambal goreng' yang selalu menjadi makanan favorit ku, dan menyesal jarang mengungkapkan kata 'sayang' padanya. Berharap 'DOA' bisa menghilangkan rasa penyesalanku. 

Love U Mom..
posted from Bloggeroid